ANALISIS RASIO KEUANGAN
UNTUK MENILAI KINERJA
Latar Belakang Masalah
Pada umumnya suatu perusahaan didirikan dengan tujuan untuk memperoleh laba. Laba merupakan hasil yang menguntungkan atas usaha yang dilakukan perusahaan pada suatu periode tertentu. Dengan laba ini dapat digunakan perusahaan untuk tambahan pembiayaan dalam menjalankan usahanya, dan yang terpenting adalah sebagai alat untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
Laba hanya bisa diperoleh dengan adanya kinerja yang baik dari perusahaan itu sendiri. Untuk itu penilaian terhadap kinerja suatu perusahaan itu sangat penting dan bermanfaat, baik bagi perusahaan sendiri, maupun bagi pihak luar perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan yang bersangkutan. Bagi perusahaan sendiri dengan mengetahui kinerjanya dapat digunakan sebagai alat ukur dalam menilai keberhasilan usahanya, juga dapat digunakan sea bagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi pihak luar perusahaan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi terhadap perusahaan yang bersangkutan.
Untuk dapat mengetahui kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari aspek non keuangan dan aspek keuangan. Dari aspek non-keuangan, kinerja dapat diketahui dengan cara, mengukur tingkat kejelasan pembagian fungsi dan wewenang dalam struktur organisasinya, mengukur tingkat kualitas sumber daya yang dimilikinya, mengukur tingkat kesejahteraan pegawai dan karyawannya, mengukur kualitas produksinya, mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan serta dengan mengukur tingkat kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sosial sekitarnya.
Penilaian kinerja melalui aspek non-keuangan relatif lebih sulit dilakukan, karena penilaian tersebut tergantung dari pihak penilain, dapat dikatakan penilain dari satu orang akan berbeda dengan hasil penilain orang lain. Sehingga dalam penilaian kinerja kebanyakan menggunakan aspek keuangan. dan pada umumnya banyak yang beranggapan bahwa keadaan keuangan akan mencerminkan keadaan seutuhnya.
Suatu analisis keuangan yang sering digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan adalah analisis rasio keuangan. Dengan analisis rasio keuangan akan dapat diketahui tingkat likuiditas, tingkat solvabilitas dan tingkat rentabilitas perusahaan.
Dengan mengetahui tingkat likuidtias suatu perubahan, maka akan dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan jaminan harta lancarnya, tingkat likuiditas ini sangat berguna khususnya bagi kreditur yang memberikan kredit jangka pendek. Sedangkan dengan mengetahui tingkat solvabilitasnya, maka akan dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya dengan jaminan harta yang dimilinya, tingkat skolvabilitas ini sangat berguna khususnya bagi kreditur, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan dengan mengetahui rentabilitas, maka akan dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan modal yang dimilikinya, hal ini sangat penting untuk mengetahui efisiensi sautu perusahaan.
Dengan mengetahui likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas suatu perusahaan, maka akan dapat diketahui keadaan perusahaan yang bersangkutan, apakah perusahaan tersebut baik atau buruk. Setelah diketahui baik atau buruknya suatu perusahaan, maka akan dapat diperkirakan tentang kelangsungan hidup perusahaan yang bersangkutan.
KAJIAN PUSTAKA
a. Definisi laporan keuangan
“Laporan Akuntansi terutama ditujukan kepada pihak ekstern perusahaan disebut dengan laporan keuangan” (mardiasmo, 2000 : 13). Sedangkan menurut Myer seperti yang dikutip Munawari (2000 : 5) dikatakan bahwa :
Laporan keuangan adalah dua daftar yagn disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu peruahaan. Kdua daftar itu adalah daftar neraca atau daf ta posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseoran-prseoran untuk menambahkan daftar ketiga ayitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba yang ditahan).
Menurut ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntnasi keuangan (1992 : 3) dikatakan bahwa :
Laporan keuagnan merupakan bagian dari proses pelaporan keuagnan. Laporan keuangan yagn lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuagnan. Disamping itu juga termasuk skedul dari informasi tambahan yang berkaitan dengan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.
“Kondisi keuangan suatu perusahaan dpaat diketahui dari laporan keuangan, yang terdiri dari Neraca, Perhitungan rugi-laba, serta laporan-laporan keuangan lainnya” (Amin Widjaja Tunggal, 1995 : 7).
Laporan keuangan pada d asarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan seb agai alat ukur untuk berkomunikasi antara d ata keuagnan atau aktivitas suatu perusahaan dnegan pihak-pihakyagn berkepentingan dgnan data a tau aktivitas peruahaan tersebut (Munawir, 2002 : 12).
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa laporan keuangan yang utama teridri dari neraca dan laporan rugi-laba, dan laporan keuangan ini ditujukan terutama bagi pihak ekstern perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan yang bersangkutan.
b. Karakteristik laporan keuangan
Menurut Dwi Prastowo (1995) karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yagn membuat informasi dalamlaporan keuangan tersebut berguna bagi pemakainya, karakteristik tersebut adalah :
1) Dapat dipahami
Kualitas penting informasi adalah dengan segera dapat dimengerti oleh pemakainya, dalam hal ini pemakai dianggap mempunyai kemampuanyagn memadai tentang aktivitas ekonomi, bisnis dan akuntansi serta mampu mempelajari informasi dengan wajar.
2) Relevan
Informasi dikatakan relevan bila mampu mempengaruhi keputusan ekonomi pemakainya dengan membantu mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
3) Keandalan
Informasi mempunyai keandalan apabila apa yagn disajikan merupakan kenyataan yang s enyatanya terjadi.
4) Dapat dibandingkan.
Para pemakai harus mampu membandingkan laporan keuangan antar periode dan membandingkan laporan keuangan antar perusahaan.
Sedangkan menurut Munawari (2001) dikatakan bahwa laporan keuagnan bersifat historis serta menyeluruh yagn terdiri dari data-data dari suatu kombinasi antara :
1) Fakta yang telah dicatat (Recorderfact)
Laporan keuangan ini dibuat atas dasar fakta catatan akuntansi, pencatatanini bredsarkan catatan historis dari peristiwa yagn telah terjadi dimasa lampau.
2) Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting convention and postulate)
Data yang dicatat didasarkan pada prosedur dan anggapan-anggapan yang lazim digunakan dalam akuntansi (General Accepted Accounting Principles)
3) Pendapat pribadi (personal judgement).
Walaupun pencatatannya berdasarkan konvensi dan dalil yang ditetapkan, namun penggunaannya tergantugn dari akuntan atau manejeman yang bersangkutan.
Menurut Mardiasmo (2001) tujuan kualitatif laporankeuangan adalah sebagai berikut :
1) Relevan, laporan keuangan harus menyajikaninformasi yagn sesuai dengan tujuan penggunanya.
2) Dapat dimengerti, laporan keuangan harus disajikan dalam bnetuk dan menggunakan istilah-istilah yang dapat dimengerti pemakainya.
3) Dapat diuji kebenarannya, laporan keuagnan dpat diuji kebenarnnya olehpihak yagn independen dnegna metode yang sama.
4) Netral, laporankeuagnan tidak disajikanutnuk kepentingan phak tertentu saja tapi utnuk umum para pemakainya.
5) Tepat waktu, laporan keuangan harus disajikan tepat waktu, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan ekonomi pemakainya.
6) Dapat diperbandingkan, laporan keuangan dapat diperbandingkan dengan periode sebelumnya.
7) Lengkap, laporan keuangan menyajikan informasi yang memadai sesuai kebutuhan pamakainya.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa laporan keuangan yagn berguna adalah yang memenuhi karakteristik kualitatif, yaitu dapat dipahami, relevan, kendalan dan dapat dibandingkan. Disamping itu laporankeuagnan merupakanlaoranyagn bersifat historis yagn merupakan data dari kombinasi antara fakta yagn telah dicatat (recorder fact) prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntnsi (accounting convention and postulate) dan pendapat pribadi (personal judgment).
c. Tujuan laporan keuangan
“Laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yagn bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi: (Dwi Prastowo 1995 : 5).
Menurut Mardiasmo (2000 : 27) dikatakan “Laporan Keuangan pada dasarnya dimaksudkan utnuk menyajikan informasi keuangan mengenai suatu perusahaanyagn akan digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi”.
Menurut Ikatan Akuntnasi Indonesia dalam Stnadar Akuntansi Indoensia (1999 : 3) dikatakan bahwa : “Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi”.
Pada umumnya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji sja teapi jgua sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuagnan perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisis tersebut pihak-pihak yang berkepentingan mengambil suatu keputusan (Munawir, 2001 : 1).
Pada dasarnya tujuan dari laporan keuangan adalah memberi informasi kepada para pemakinya mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
d. Arti penting laporan keuangan
Menurut Dwi Prastowo (1995) pemakai laporan keuangan meliputi :
1) Investor
Para investor berkepentingan terhadap risiko atas pengembangan investasi yang dilakukannya.
2) Kreditur
Memerlukan informasi keuangan untuk mengetahui apakah kredit yang diberikan dapat dibayar saat jatuh tempo.
3) Pemasok dan kreditur usaha lainnya
Tertari pada informasi keuanganini untuk mengetahui apakah jumlah yang terhutang dapat dibayarkan saat jatuh tempo.
4) Pelanggan
Perkembangan terhadap kelangsungan perusahaan, terutama bila terlibat dalam perjanjian jangka panjang perusahaan.
5) Pemerintah
Berkepentingan terhadap alokasi submer daya, mengatur aktivitas perusahaan dan penetapan pajak.
6) Karyawan
Tertarik pada stabilitas dan profitabilitas perusahaan, juga mengenai kemampuan perusahaan dalam membaerikan balas jasa.
7) Masyarakat.
Laporan keuangan membantu masyarakat dengan memberikan informasi tentang kecenderugnan dan perkembnagan perusahaan.
Menurut Mardiasmo (2000) keguanaan laporan keuangan bagi pihak-pihak yang memelrukannya adalah sebagai berikut :
1) Manajemen (Pengelola perusahaan)
Digunakan sebagai dasar penyusunan perencanaan dan pengendalian (terutama yang berkaitan dengan keuangan).
2) Pemilik perusahaan
Berkepentingan terhadap laporan keugnan berkaitan dnegan modal yang diinvestasikannya.
3) Kreditur (calon kreditur)
Untuk mengetahui posisi dan kemampuan keuangan perusahaan yang bersangkutan.
4) Pemerintah.
Berkepentingan dalam penetapan pajak.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalamStandar Akuntansi Keuangan (1999) pemakai laporan keuangan meliputi :
1) Investor, berkepentingan atas pengembalian modal yagn diikutsertakan.
2) Karyawan, tertarik untuk mengetahui stabilitas dan profitabilitas perusahaan.
3) Pemberi pinjaman, tertarik atas kemampuan pengembalian pinjaman yang diberikan.
4) Pemasok dan kreditur usaha lainnya, tertarik pada informasi mengenai kemampuan membayar jumlah yang terhutang.
5) Pelanggan, tertarik mengeni informasi tentang kelangsungan hidup perusahaan.
6) Masyarakat, tertarik pada kecenderugnan dan perkembangan perusahaan.
Laporan keuangan berguan baik bagi pihak perusahaan sendiri maupun pihak luar perushaaan. Kegunaan dari laporan keuangan sendiri sangat bervariasi tergantung dari pihak pamakainya.
2. Analisis laporan keuangan.
Analisis dan interpretasi laporan keuangan adalah merupakan suatu proses untuk membantu memecahkan dan sekaligus menjawab masalah-masalah yang timbul dalamsuatu oraganisasi perusahaan maupun organisasi yang tidak bertujuan untuk memperoleh laba. Analisis dan interpretasi laporan keuangan adalah suatu alat yang dapat dipergunakan untuk membuat suatu keputusan antara lain mengenai rencana-rencana perluasan, penanaman modal (investasi), pencarian dana operasi peruahaan, dan lain-lain (Amin Widjaja Tunggal, 1995 :22).
Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa yang lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang (Dwi prastowo, 1995 : 30).
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperolehinformasi tentang posisi keuagnan dan hasil-hasilyang telah dicapai suatu perusahaan, informasi tentang keuangan ini sengaja disusun untuk disajikan kepada pihak-pihakyang berkepentingan. Data keuangan dari laporankeuangan tersebut akan lebih bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila diperbandingkan antara dua period atau lebih dan dianalisis sesuai dengan kebutuhanpihakyang memerlukannya,s ehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbnagna bagi pemakainya, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemakainya.
Menurut Munawir (2001) terdapat dua analisis yang bisa digunakan, yaitu metode vertikal dan metode horizontal. Analisis vertikal adalah analsisi laporankeuagnan untuk satu periode saja,s edangkan analisis hrozontal adalah analisis laporan keuangan untuk beberapa periode.
Dengan metode vertikal akandiperoleh keseimpulan yang statis, karean tidak dikethaui perkembangannya. Sedangkan dengan metode horizontal akan diperoleh kesimpulan yang dinamis dan diketahui perkembangannya.
3. Analisis rasio keuangan
Raiso menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relationhip) antara suatu jumah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa ratio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambara kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan sutau perusahana terutama apabila angka ratio tersebut dibandingkan dngan angka ratio perbandingan yang digunakan sebagai standar (Munawir, 2001 : 64).
Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan finansial peruahaan,s eorang pengalaisis memerlukan adanya ukuran atau “yardistick´tertentu. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis finansial adalah “ratio”. Pengertian ratio itu sebenarnya hanyalah alatyang dinyatakan dalam “artimathical terms” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam daata finasial (Bambang Riyanto, 1995 : 263).
“Suatu rasio mengunkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos denga pos lainnya” (Dwi Prastowo, 1995 : 54).
Analisis rasio keuangan ini biasanya digunakan suatu ratio standard, yaitu rasio rata-rata industri. Manaat dari penggunaan rasio ini juga bervariasi, tergantung dari pihak-pihgak yang memerlukannya.
4. Klasifikasi rasio keuangan
a. Likuiditas
“Ratio likuiditas (liquidity rations) yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendek yagn jatuh tempo”. (J. Fred Weston dan Eugene F. Brigham, 1993 : 115).
Sedangkan menurut Dwi Prastowo (1995), rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Rasio likuiditas dapat juga dikatakan sebagai alat untuk mengetahui kemampuan perusahaan utnuk memenuhi hutang jangka pendeknya yang jatuh tempo. Ratio likuiditas dapat dihitung dengtan cara :
1) Current ratio
“Current ratio, yaitu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutan lancar”. (Munawir, 2001 : 72).
Current ratio ini memberikan gambaran seberapa besar hutang lancar dijamin dnegan harta lancar yagn dimiliki perusahaan.
Likuiditas dari current raito ini adalah likuiditas badanusaha.
Current ratio :
Mengacu pada deoman penilaian koperasi, perusahaan menengah dan kecil berprestasi (Kementerian Koperasi dan Pengusaha Kecil dan Menengah, 2002), maka kriteria penilaian current ratio adalah sebagai berikut :
a) Baik sekali : 175%-2000%
b) Baik : 150%-174% atau 201%-215%
c) Kurang baik : 100%-149% atau 220%-239%
d) Tidak baik : kurang dari 100% atau lebih dari 24%.
2) Acid Tes Ratio (Quick Ratio)
“Acid test ratio (Quick ratio) dirancang untuk mengukur seberapa baik perusahaan dapat memenuhi kewajibannya tanpa harus melikuidasi atau terlalu bergantung pada persediaannya”. (Dwi Prastowo, 1993 : 58-59). Dalam perhitungan quict ratio persediaan tidak dimasukkan dalam aktiva lancar karena persediaan dianggap tidak terlalu likuid, karena persediaan membutuhkan waktu yagn relatif lama untuk menjadi kas.
Quick Ratio :
Mengacu pada pedomanenilain koperasi, perusahaan menengah dan kecil berprestasi (Kementrian Koperasi dan Penguasaha Kecil dan Menengah, 2002), maka kriteria penilaian Quick Ratio adalah sebagai berikut :
a) Baik sekali : lebih dari 100%
b) Baik : 100%
c) Kurang baik : kurang 100%
d) Tidak baik : kurang dari 10% atau lebih dari 25%.
b. Solvabilitas
“Solvabilitas perusahaan menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya”. (Dwi Prastowo, 1995 : 62).
Kreditur jangka panjang menaruh perhatian yagn lebih pada ratio solvavilitas ini, karean disamping harus mengetahui tentang kemampuan membayar kewajiban jangka pendeknya, yaitu bunga atas pinjaman yang diberikan, ia juga mengetahui kemampuan membayar kewajiban dan jangka panjangnya, yaitu pengembalian pinjaman itu sendiri.
Rasio yang bisa digunakan antara lain :
1) Total asset to debt ratio
“Solvabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan membandingkan jumlah aktiva (total assets) disatupihak dnegna jumlah hutang (baikjangka pendek maupun jangka panjang) di lain pihak” (Bambang Riyanto, 1999 : 25).
Rasio ini menggambarkan sebesara besar hutang dijamin dengan kekayaan yang dimiliki perusahaan.
Total asset to debt ratio :
Mengacu pada pedomanenilain koperasi, perusahaan menengah dan kecil berprestasi (Kementrian Koperasi dan Penguasaha Kecil dan Menengah, 2002), maka kriteria penilaian total asset to debt ratio adalah sebagai berikut :
a) Baik sekali : 151%-160%
b) Baik : 131%-150% atau 161%-180%
c) Kurang baik : 110%-130%
d) Tidak baik : kurang dari 110% atau lebih dari 180%.
2) Net worth to debt ratio
Ratio ini membadingkan modal sendiri (inet worth) yang merupakan kelebihan nilai (excess value) dari aktiva diatas hutang dengan jumlah hutang (Bambang Riyanto, 1995).
Net worth to total asset rasio :
Mengacu pada pedomanenilain koperasi, perusahaan menengah dan kecil berprestasi (Kementrian Koperasi dan Penguasaha Kecil dan Menengah, 2002), maka kriteria adalah sebagai berikut :
a) Baik sekali : lebih dari 15%
b) Baik : 12,6%-15%
c) Kurang baik : 10%-12,5%
d) Tidak baik : kurang dari 10%
c. Rentabilitas
“Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva a tau modal yagn mengahasilkan laba tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu peruahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu”, (Bambang Riyanto, 1995 : 27).
Rentabilitas ini dapat juga digunakan sebagai alat ukur terhadap efisiensi dan efektifitas perusahaan dalam menggunakan modal yang dimilikinya untuk menghasilkan laba.
Ada 2 macam rentabilitas yaitu :
1) Rentabilitas ekonomis
“Rentabilitas ekonomis merupakan kemampuan untuk menghasilkan laba dari keseluruhan modal, baik modal asing maupun sendiri yang digunakan menghasilkan laba tersebut”. (Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo, 1998 : 255).
Laba yang besar bukanlah suatu ukuran bahwa perusahaan telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan modal yang digunakan atau dengan menghitung rentabilitasnya.
Rentabilitas ekonomis :
Menurut Bambang Riyanto (1995) ada 2 faktor yang mempengaruhi rentabilitas ekonomis/earning power, yaitu :
a) Profit margin, merupakan perbandingan antara “Net Operating income” dengan “Net Sales” yang dinyatakan dalam persentase.
b) Turnover of operating asset, mreupakan berputarnya “Operating asset” dalam periode tertentu, dihitung dengan membagi “net sales” dengan “operatibng asset”. Mengacu pada pedoman penilian koprasi,perusahaan menengah dan kecil berprestasi (Kementerian Koperasi dan Penguasa Kecil dan Menengah, 2002), maka kriteria penilainnya adalah sebagai berikut :
(1) Baik sekali : lebih dari 20%
(2) Baik : 16%-20%
(3) Kurang baik : 10%-15%
(4) Tidak baik : kurang dari 10%
5. Kinerja perusahaan
Informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalilan dimasa depan. Informasi fluktuasi kinerja adalah penting dalam hubungan ini. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam emnghasilkan arus kas dari sumber saya yagn ada. Disamping itu informasi tersebut jgua berguna dalam perumusan pertimbnagan tentang efektivitas preusahaan dalam memanfaatkantambahan submerdaya (Ikatan Akuntan Indonesia, 1999 : 3).
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (1995) Kinerja diartikan sebagai suatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja.
Penghasilan bersih (laba) seringkali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagi dasar bagi ukuran yagn lain, seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan per saham (earning per share). Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba) adalah pengahsilan dan beban. Pengakuan danpenagukuran pengahsilan dan beban, dan karenaya jgua pengahsilan bersih (laba), tergantung s ebagian pada konsep modal dan pemeliharaan modal yagn digunakan perusahaan dalam penyusunan laporan keuangannya (Ikatan Akuntan Indonesia, 1999 : 12).
Kinerja suatu perusahaan sangat penting untuk diketahui oleh pihak-pihak yang memerlukannya, dengan mengetahui kinerja perusahaan dapat digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan ekonominya.
B. Kerangka Berfikir
Dengan analisis rasio keuangan akan diketahui tingkat likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas sautu perusahaan. Dengan mengetahui ketiga ratio tersebut, maka akan dapat diketahui kinerja suatu perusahaan.
Perusahaan akan diaktan likuid apabila current rationya sebesar 150% sampai 200% atau 201% sampai 215% dan quick rationya sebesar 100% ke atas, dan bila memenuhi kriteria tersebut maka perusahaan dikatakan kinerjanya baikd ari segi likuiditasnya. Dikatakan solvable apabila total asset to debt rationya sebesar 131% sampai 160% atau 161% sampai 180% dan Net Worth to debt rationya sebesar 12,6% sampai lebih dari 15% dan bila memenuhi kriteria tersebut perusahaan dikatakankinerjanya baikd ari segi isolvabilitasnya. Dan dikatakan rentable apabila rentabilitas ekonominya sebesar 15% sampai lebih dari 24%,dan renabilitas modal sendirinya sebear 16% sampai lebih dari 20%, dan akan dikatakan kinerjanya baikd ari segi rentabilitasnya apabila memenuhi kriteria tersebut.
Namun tiak semua p erusahaan dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut. Dilihat dari likuiditas dan solvabilitas , ada kategori likuid tapi insolvable, maka peruashaan masih akan bisa melakukanusahanya karena tidak akan seera mengalami kesulitan finasial dan masih bia beruaha memperbaiki solvabilitasnya. Tetapi jika peruahaan solvable tapi likuid, maka peruahaan akan segera mengalami kesulitan finasial, karena akan mengahadapi tagihan-tagihan dari para kreditur. Namun yagn harus diusahakan adlaha perusahaan tersebut rentable, karena perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba yang baik, sehingga sangat berguna untuk kelangsungan hidup perusahaan dan dapat digunakan utnuk memperbaiki rasio-rasio yang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
mau tnya min untuk mengenai standar ukur rasio keuangan apakah sama dengan perusahaan yang sudah go pubclik
Posting Komentar